Tak
terasa hampir tiga tahun sudah aku
berada disekolah yang orang bilang sebagai tempat menuntut ilmu tetapi bagiku
itu benar-benar sebagai penjara bagi kehidupanku. Bukan karena pelajaran
melainkan karena sesuatu yang mungkin aku tidak bisa jelaskan dengan
kata-kata. Namaku Fera, Ferania Lucas Anastasya.
Murid kelas 12 disekolah kejuruan favorit dikotaku. Entah mengapa aku tak tahu
dengan kehidupanku saat ini, bahkan untuk mengingatnya-pun aku sudah tak
sanggup lagi. Mengingat kisah cinta yang pedih dan sangat perih yang hanya bisa
membuatku semakin tak kuasa menjalani kehidupan ini.
***
Musim kemarau tiba. Jum’at pagi yang
cerah dikala sang surya bersinar dengan diiringi nyanyian merdu dari
burung-burung yang seakan-akan selalu bersemangat menyambut datangnya pagi
menemaniku melangkah menuju sekolah. Aku tak tahu mengapa aku sungguh bersemangat
sekolah pagi ini. Mungkin karena pelajaran yang dari dulu aku puja-puja sampai
sekarang. Bahasa Indonesia. Atau mungkin karena hal lain, entahlah aku tidak
terlalu memikirkannya.
“Selamat pagi, kawan”. Sapaku kepada
setiap orang yang aku jumpai.
Pagi
ini aku menggunakan pakaian praktik layaknya orang bekerja disebuah bengkel
ternama dikota kami. Mirip sekali. Hanya yang membedakan, aku bekerja dengan software dan kamera. Aku melangkah menuju
sebuah ruangan yang akan dipenuhi tiga puluh tujuh siswa lainnya pada saat bel
masuk. Ruang kelas.
“Selamat
pagi, Fer”. Sapa seseorang diseberang sana. Dan ternyata adalah Dera, Dera
Alditama. Sahabatku dari SMP.
“Selamat
pagi juga, Der. Gimana tugasmu?”
“Tugas
apa, ya?”. Jawabnya dengan muka polos.
“Dera
Alditama, kenapa sih dari SMP nggak ada perubahan. Masih pikun aja”.
“O..
iya baru ingat, buat puisi itukah, Fer?”.
“Yup”.
Jawabku singkat
“Belum.
Hehe”.
Aku
pun tak begitu kaget dengan jawaban Dera tentang itu. Aku segera meletakkan tas
berisi perlengkapan sekolahku yang beratnya mungkin sama dengan karung beras 10
kilogram. Berat memang, tapi itu yang harus kubawa setiapa harinya. Dan aku
selalu berfikiran bahwa aku harus membawa koper untuk membawa barang-barang ku
ini. Dan seperti biasa, aku dan Dera berbincang-bincang dibalkon dekat ruang
kelas. Dan seperti biasa pula, kami membahas sesuatu yang sama-sama sedang kami
rasakan. Tentang sebuah perasaan yang sekian tahun lamanya yang tidak mau menghilang
dari sini. Dari hati yang telah mencoba untuk melupakan sejenak bahkan ingin
melupakan untuk selama mungkin semua hal yang membuat cinta itu singgah di hati
yang paling dalam.
“Aku
berfikir dan aku merasa bahwa setiap hari perasaan ini semakin tumbuh dengan
perlahan. Seperti rumput liar yang tumbuh tanpa perlu ditanam dan tetap
bertahan hidup tanpa ada yang menyirami”. Kataku pada Dera.
“Sudahlah,
Fer. Buat apa kamu mikirin hal itu. Masih banyak hal penting yang harus kamu
fikirkan. Dia mah nggak penting”
“Sebentar,
aku mau ambil cermin dulu. Supaya kamu tahu apa yang kamu omongin itu nggak
tercermin di dirimu”. Kataku sambil tertawa.
Aku dan Dera berbincang lama sekali
sampai kita tidak mendengar bel masuk telah mengeluarkan suara emasnya dengan lantang.
Pelajaran dimulai.
***
Waktu menunjukkan pukul setengah
empat. It’s time to go home, yeah!.
Namun, masih ada yang harus aku kerjakan kali ini. Bukan kali ini, tetapi untuk
sekian kali ini. Aku sampai lupa bagaimana rasanya tidur siang di bed ku yang sangat sangat nyaman dengan
bantal berisikan kapas yang selalu membuatku lupa akan segala beban. Tugas kali
ini it’s so something. Ya, membuat sebuah
film pendek untuk tugas akhir semesterku. Dan lagi-lagi aku mendapati nama Dera
Alditama masuk kedalam jajaran salah satu nama di kelompokku.
“Dera, kamu bawa naskah kita yang
kemarin kita buat, nggak?”. Tanyaku spontan.
“Iya, bawa. Tapi sebentar, yes. Aku cari dulu. Hehe”.
“Cepetan”.
“Ini, udah ketemu”. Katanya sambil
menyodorkan buku itu kepadaku.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana
jika Dera tak membawa naskah itu. Mungkin aku harus lompat dari lantai paling
atas gedung ini saking bingung dan
frustasinya. Atau bahkan aku terpaksa harus mengeluarkan suara 8 oktafku untuk mengeluarkan
semua kekesalanku pada Dera. Karena didalam naskah itu terselip separuh nyawaku
bersama crew film pendek. Tanpa
berfikir panjang, kami segera prepare
untuk memulai pengambilan gambar. Ribet.
Take dimulai. Sandiwara dimulai. Semua
talent untuk film pendekku segera
menunjukkan aktingnya. Bagai bintang film yang berlaga diteater sungguhan yang
ditonton ribuan orang yang memadati ruang pertunjukkan. Dan taman-pun menjadi
pilihan untuk mengambil scene
perdebatan antara dua insan yang memperebutkan seorang lelaki yang baru
dikenalnya. Sungguh dramatis. Pengambilan gambar dimulai. Camera roll action. Aba-aba seorang sutradara-pun telah menutup
semua yang berbicara. Termasuk aku, sang cameraman.
Dan mulai kubidik lensa kearah model.
Tak terasa sudah, waktu telah
menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dan disaat waktu yang ditunggu-tunggu telah datang
menghampiri, kami para crew bersiap
untuk pulang. Aku tak tahu perasaan bahagiaku yang sejak pagi tadi aku rasakan
tiba-tiba berubah menjadi perasaan cemas, khawatir, pusing, dan tiba-tiba aku
ingin menangis. Entahlah, aku tetap pada posisiku membenahi semua property
untuk kebutuhan shooting ku tadi.
“Fer?”. Panggil Dera.
“Hm, apa? Bentar ya, nanti aku
bantuin beresin kok”.
“Belum juga ngomong mauku apa”.
Jawab Dera kesal.
“Iya apaan?”.
“Lihat deh, itu kayaknya si Doni,
deh”.
“Doni Sandy Mahendra-kah yang
dimaksud?”. Batinku meyakinkan diriku.
Tanpa berfikir panjang aku langsung
menengok ke belakang. Dan ternyata apa yang dikatakan Dera benar adanya. Orang
itu adalah Doni Sandy Mahendra. Seorang laki-laki yang telah singgah dihati ini
dalam hampir tiga tahun lamanya. Dia berdiri tepat didepan pintu kelas yang
tidak aku ketahui kelas berapa yang singgah ditempat tersebut. Dia menatapku
sekilas lalu pergi bersama seorang perempuan yang entah siapa namanya. Air mata
yang dari tadi ku bendung, akhirnya pecah. Aku menyadari mungkin perasaan yang
tiba-tiba bahagia menjadi sangat cemas dan ingin mengeluarkan air mata adalah
ini. Perasaan yang tak mampu aku jelaskan dengan kata-kata dan tak bisa aku
lukiskan dengan kuas dan canvas.
Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya kepada Doni bahwa aku lebih
mencintainya dibanding seorang perempuan yang berjalan disampingnya.
“Kamu kenapa, Fer?”. Tanya Dera. Dan
mungkin hanya Dera yang mengetahui aku menangis. Atau mungkin yang lain
mengetahui tetapi tetap bekerja ditempatnya.
“Nothing”.
Jawabku sambil tersenyum dan mengusap air mataku.
“Are
you serious? Or just kidding me?”.
“Sure.
Let’s go home!”. Aku berpura-pura
bersemangat.
***
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Sepertinya,
baru 5 menit yang lalu aku memejamkan mataku, tetapi ayam telah berkokok
seakan-akan mengucapkan selamat pagi bagi insan yang sedang merasakan separuh
dari pahitnya kehidupan. Aku-pun juga tidak menyadari bahwa semalam aku
ketiduran disamping laptop ku dengan buku berserakan didepanku. Mungkin karena
terlalu capek atau bisa jadi karena pertemuan dengan Doni yang membuat mataku
bengkak pagi ini.
Itu
bukan kali pertamanya aku bertemu dengan Doni dalam kondisi yang sama. Sekitar
seminggu yang lalu, tepatnya dihari Jum’at saat kegiatan rutin Jum’at Sehat,
aku melihat dia berjalan bersama seorang perempuan. Dari kejauhan, aku fikir
bahwa seorang perempuan itu adalah teman sekelas Doni. Tetapi semakin aku
mendekatinya, semakin jelas wajah seorang perempuan itu. Aku tidak mengenali
wajah perempuan itu sebagai teman sekelas Doni, karena aku tahu siapa saja
teman sekelasnya. Dan aku berfikir bahwa perempuan itu adalah kekasihnya Doni. Ironis
memang. Penantian yang selama ini aku bayangkan akan membuahkan hasil
membahagiakan untukku dan Doni malah berubah menjadi buah pahit yang mau tidak
mau harus aku makan. Mau tidak mau aku harus menerima. Karena aku perempuan
bisa apa selain mendo’akan kebahagiaan dan hidupnya. Memaksanya untuk
mencintaiku pun juga tak berhak.
Hari
ini, aku lalui seperti biasa. Hanya ada satu yang membuatku sedikit tidak
bersemangat pagi ini. Dan seperti biasa, langit cerah di Sabtu pagi tidak
memberikan isyarat tentang apapun. Aku meneguk secangkir teh yang aku buat
sendiri dengan penuh kesedihan. Rasanya bahkan tidak seperti teh, tetapi lebih
seperti air putih biasa. Hambar. Seperti yang kurasakan pagi ini. Musik yang
biasanya aku putar pada pagi hari nampaknya juga tidak bersemangat.
***
Perasaan
itu sampai disekolah. Ketidaksemangatanku pagi ini membuat mereka
bertanya-tanya ada apa gerangan dengan diriku ini. Seorang perempuan yang selalu
tertawa dan pada akhirnya harus menangis dalam luka. Sampai akhirnya aku
berfikir mengapa aku harus peduli. Dia saja tidak pernah mepedulikanku. Mengapa
dulu aku memikirkan perasaannya ketika dia dilanda luka. Sedangkan dia sendiri
tidak pernah berfikir sedikitpun tentang perasaanku.
“Aku tahu bahwa kamu sebenarnya
tahu. Sadar bahwa ada orang yang selama ini menantimu selama ini, sesetia ini.
Tapi mengapa kamu melangkah pergi?. Tak cukup pantaskah aku untukmu?”. Aku
bergumam dalam batinku.
“Kamu
kenapa sih, Fer?. Gara-gara kejadian kemarin?”. Tanya Dera disela-sela
lamunanku. Memang aku tidak pernah mengatakan pada Dera tentang apa yang
membuatku sedih, tetapi Dera telah mengetahui bahwa aku termasuk salah satu
orang yang MAGAMON (Manusia Gagal Move-On). Tak tahu-lah bahasa dari mana itu.
“Pernah
nggak sih, Der. Kamu sangat mencintai seseorang tetapi pada akhirnya kamu sadar
bahwa cintamu bertepuk sebelah tangan?. Tapi kamu nggak pernah sedikitpun ingin
membuang perasaan itu. Sebaliknya kamu malah menyimpan perasaan itu didasar
hatimu. Tak peduli betapa sakitnya hatimu ketika melihat orang yang kamu saying
berjalan dengan orang lain dan itu bukan kamu”. Kata-kata puitis akhirnya
keluar dari mulutku.
“Fer,
sudahlah. Kamu sendiri yang bilang padaku kalau kamu bisa move-on. Tapi nyatanya apa, hayo. Udahlah, Fer. Lupakan dia. Buka
hatimu untuk orang lain. Diluar sana banyak yang menginginkan cintamu”.
“Sulit
sekali rasanya. Membuka hati untuk orang lain sedangkan hatiku masih tertinggal
disana. Ditempat yang sama. Dalam keadaan masih utuh tanpa ada kurang 1% pun”.
“Belajarlah,
Fer”.
“I will try”. Kataku sambil berlau
meninggalkan Dera di balkon dekat kelas sendirian.
***
Aku
seperti tanaman tak terkena air selama berhari-hari. Kering. Tandus. Layu.
Hari-hari ku tidak ada perubahan. Masih dalam kondisi yang sama dan perasaan
yang sama. Malahan, semakin hari semakin menjadi. Karena setiap hari pula, aku
melihat Doni berjalan dengan kekasihnya. Aku terus saja mengeluarkan senyum
palsu, terpaksa tertawa untuk menutupi semua kesedihanku. Bahkan kepalaku
terdapat backsong yang menggambarkan
perasaanku saat ini. Bait Pertama dari Sheila On Seven.
Mungkin
aku harus mengakhiri semua sebelum perasaan itu semakin tumbuh dan berkembang. Aku
harus mendengarkan kata-kata Dera untuk membuka hatiku untuk orang lain.
Mencoba menerima keadaan yang ada dan menjalani hidup seperti biasa. Melupakan semua
tentang Doni. Mengejar cita-citaku yang belum tercapai. Karena masih panjang
hidupku. Masih tinggi cita-citaku. Masih banyak yang harus aku lakukan untuk
kedua orang tuaku. Dan masih banyak orang yang berharap akan kehadiranku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar