Sabtu, 03 Januari 2015

Hujan di Kemarau-ku



Tak terasa hampir  tiga tahun sudah aku berada disekolah yang orang bilang sebagai tempat menuntut ilmu tetapi bagiku itu benar-benar sebagai penjara bagi kehidupanku. Bukan karena pelajaran melainkan karena sesuatu yang mungkin aku tidak bisa jelaskan dengan kata-kata.  Namaku Fera, Ferania Lucas Anastasya. Murid kelas 12 disekolah kejuruan favorit dikotaku. Entah mengapa aku tak tahu dengan kehidupanku saat ini, bahkan untuk mengingatnya-pun aku sudah tak sanggup lagi. Mengingat kisah cinta yang pedih dan sangat perih yang hanya bisa membuatku semakin tak kuasa menjalani kehidupan ini.
***
            Musim kemarau tiba. Jum’at pagi yang cerah dikala sang surya bersinar dengan diiringi nyanyian merdu dari burung-burung yang seakan-akan selalu bersemangat menyambut datangnya pagi menemaniku melangkah menuju sekolah. Aku tak tahu mengapa aku sungguh bersemangat sekolah pagi ini. Mungkin karena pelajaran yang dari dulu aku puja-puja sampai sekarang. Bahasa Indonesia. Atau mungkin karena hal lain, entahlah aku tidak terlalu memikirkannya.
            “Selamat pagi, kawan”. Sapaku kepada setiap orang yang aku jumpai.
Pagi ini aku menggunakan pakaian praktik layaknya orang bekerja disebuah bengkel ternama dikota kami. Mirip sekali. Hanya yang membedakan, aku bekerja dengan software dan kamera. Aku melangkah menuju sebuah ruangan yang akan dipenuhi tiga puluh tujuh siswa lainnya pada saat bel masuk. Ruang kelas.
“Selamat pagi, Fer”. Sapa seseorang diseberang sana. Dan ternyata adalah Dera, Dera Alditama. Sahabatku dari SMP.
“Selamat pagi juga, Der. Gimana tugasmu?”
“Tugas apa, ya?”. Jawabnya dengan muka polos.
“Dera Alditama, kenapa sih dari SMP nggak ada perubahan. Masih pikun aja”.
“O.. iya baru ingat, buat puisi itukah, Fer?”.
“Yup”. Jawabku singkat
“Belum. Hehe”.
Aku pun tak begitu kaget dengan jawaban Dera tentang itu. Aku segera meletakkan tas berisi perlengkapan sekolahku yang beratnya mungkin sama dengan karung beras 10 kilogram. Berat memang, tapi itu yang harus kubawa setiapa harinya. Dan aku selalu berfikiran bahwa aku harus membawa koper untuk membawa barang-barang ku ini. Dan seperti biasa, aku dan Dera berbincang-bincang dibalkon dekat ruang kelas. Dan seperti biasa pula, kami membahas sesuatu yang sama-sama sedang kami rasakan. Tentang sebuah perasaan yang sekian tahun lamanya yang tidak mau menghilang dari sini. Dari hati yang telah mencoba untuk melupakan sejenak bahkan ingin melupakan untuk selama mungkin semua hal yang membuat cinta itu singgah di hati yang paling dalam.
“Aku berfikir dan aku merasa bahwa setiap hari perasaan ini semakin tumbuh dengan perlahan. Seperti rumput liar yang tumbuh tanpa perlu ditanam dan tetap bertahan hidup tanpa ada yang menyirami”. Kataku pada Dera.
“Sudahlah, Fer. Buat apa kamu mikirin hal itu. Masih banyak hal penting yang harus kamu fikirkan. Dia mah nggak penting”
“Sebentar, aku mau ambil cermin dulu. Supaya kamu tahu apa yang kamu omongin itu nggak tercermin di dirimu”. Kataku sambil tertawa.
            Aku dan Dera berbincang lama sekali sampai kita tidak mendengar bel masuk telah mengeluarkan suara emasnya dengan lantang. Pelajaran dimulai.
***
            Waktu menunjukkan pukul setengah empat. It’s time to go home, yeah!. Namun, masih ada yang harus aku kerjakan kali ini. Bukan kali ini, tetapi untuk sekian kali ini. Aku sampai lupa bagaimana rasanya tidur siang di bed ku yang sangat sangat nyaman dengan bantal berisikan kapas yang selalu membuatku lupa akan segala beban. Tugas kali ini it’s so something. Ya, membuat sebuah film pendek untuk tugas akhir semesterku. Dan lagi-lagi aku mendapati nama Dera Alditama masuk kedalam jajaran salah satu nama di kelompokku.
            “Dera, kamu bawa naskah kita yang kemarin kita buat, nggak?”. Tanyaku spontan.
            “Iya, bawa. Tapi sebentar, yes. Aku cari dulu. Hehe”.
            “Cepetan”.
            “Ini, udah ketemu”. Katanya sambil menyodorkan buku itu kepadaku.
            Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika Dera tak membawa naskah itu. Mungkin aku harus lompat dari lantai paling atas gedung ini saking bingung dan frustasinya. Atau bahkan aku terpaksa harus mengeluarkan suara 8 oktafku untuk mengeluarkan semua kekesalanku pada Dera. Karena didalam naskah itu terselip separuh nyawaku bersama crew film pendek. Tanpa berfikir panjang, kami segera prepare untuk memulai pengambilan gambar. Ribet.
            Take dimulai. Sandiwara dimulai. Semua talent untuk film pendekku segera menunjukkan aktingnya. Bagai bintang film yang berlaga diteater sungguhan yang ditonton ribuan orang yang memadati ruang pertunjukkan. Dan taman-pun menjadi pilihan untuk mengambil scene perdebatan antara dua insan yang memperebutkan seorang lelaki yang baru dikenalnya. Sungguh dramatis. Pengambilan gambar dimulai. Camera roll action. Aba-aba seorang sutradara-pun telah menutup semua yang berbicara. Termasuk aku, sang cameraman. Dan mulai kubidik lensa kearah model.
            Tak terasa sudah, waktu telah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dan disaat waktu yang ditunggu-tunggu telah datang menghampiri, kami para crew bersiap untuk pulang. Aku tak tahu perasaan bahagiaku yang sejak pagi tadi aku rasakan tiba-tiba berubah menjadi perasaan cemas, khawatir, pusing, dan tiba-tiba aku ingin menangis. Entahlah, aku tetap pada posisiku membenahi semua property untuk kebutuhan shooting ku tadi.
            “Fer?”. Panggil Dera.
            “Hm, apa? Bentar ya, nanti aku bantuin beresin kok”.
            “Belum juga ngomong mauku apa”. Jawab Dera kesal.
            “Iya apaan?”.
            “Lihat deh, itu kayaknya si Doni, deh”.
            “Doni Sandy Mahendra-kah yang dimaksud?”. Batinku meyakinkan diriku.
            Tanpa berfikir panjang aku langsung menengok ke belakang. Dan ternyata apa yang dikatakan Dera benar adanya. Orang itu adalah Doni Sandy Mahendra. Seorang laki-laki yang telah singgah dihati ini dalam hampir tiga tahun lamanya. Dia berdiri tepat didepan pintu kelas yang tidak aku ketahui kelas berapa yang singgah ditempat tersebut. Dia menatapku sekilas lalu pergi bersama seorang perempuan yang entah siapa namanya. Air mata yang dari tadi ku bendung, akhirnya pecah. Aku menyadari mungkin perasaan yang tiba-tiba bahagia menjadi sangat cemas dan ingin mengeluarkan air mata adalah ini. Perasaan yang tak mampu aku jelaskan dengan kata-kata dan tak bisa aku lukiskan dengan kuas dan canvas. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya kepada Doni bahwa aku lebih mencintainya dibanding seorang perempuan yang berjalan disampingnya.
            “Kamu kenapa, Fer?”. Tanya Dera. Dan mungkin hanya Dera yang mengetahui aku menangis. Atau mungkin yang lain mengetahui tetapi tetap bekerja ditempatnya.
            Nothing”. Jawabku sambil tersenyum dan mengusap air mataku.
            Are you serious? Or just kidding me?”.
            Sure. Let’s go home!”. Aku berpura-pura bersemangat.
***
            Waktu terasa berjalan begitu cepat. Sepertinya, baru 5 menit yang lalu aku memejamkan mataku, tetapi ayam telah berkokok seakan-akan mengucapkan selamat pagi bagi insan yang sedang merasakan separuh dari pahitnya kehidupan. Aku-pun juga tidak menyadari bahwa semalam aku ketiduran disamping laptop ku dengan buku berserakan didepanku. Mungkin karena terlalu capek atau bisa jadi karena pertemuan dengan Doni yang membuat mataku bengkak pagi ini.
Itu bukan kali pertamanya aku bertemu dengan Doni dalam kondisi yang sama. Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya dihari Jum’at saat kegiatan rutin Jum’at Sehat, aku melihat dia berjalan bersama seorang perempuan. Dari kejauhan, aku fikir bahwa seorang perempuan itu adalah teman sekelas Doni. Tetapi semakin aku mendekatinya, semakin jelas wajah seorang perempuan itu. Aku tidak mengenali wajah perempuan itu sebagai teman sekelas Doni, karena aku tahu siapa saja teman sekelasnya. Dan aku berfikir bahwa perempuan itu adalah kekasihnya Doni. Ironis memang. Penantian yang selama ini aku bayangkan akan membuahkan hasil membahagiakan untukku dan Doni malah berubah menjadi buah pahit yang mau tidak mau harus aku makan. Mau tidak mau aku harus menerima. Karena aku perempuan bisa apa selain mendo’akan kebahagiaan dan hidupnya. Memaksanya untuk mencintaiku pun juga tak berhak.
Hari ini, aku lalui seperti biasa. Hanya ada satu yang membuatku sedikit tidak bersemangat pagi ini. Dan seperti biasa, langit cerah di Sabtu pagi tidak memberikan isyarat tentang apapun. Aku meneguk secangkir teh yang aku buat sendiri dengan penuh kesedihan. Rasanya bahkan tidak seperti teh, tetapi lebih seperti air putih biasa. Hambar. Seperti yang kurasakan pagi ini. Musik yang biasanya aku putar pada pagi hari nampaknya juga tidak bersemangat.
***
Perasaan itu sampai disekolah. Ketidaksemangatanku pagi ini membuat mereka bertanya-tanya ada apa gerangan dengan diriku ini. Seorang perempuan yang selalu tertawa dan pada akhirnya harus menangis dalam luka. Sampai akhirnya aku berfikir mengapa aku harus peduli. Dia saja tidak pernah mepedulikanku. Mengapa dulu aku memikirkan perasaannya ketika dia dilanda luka. Sedangkan dia sendiri tidak pernah berfikir sedikitpun tentang perasaanku.
            “Aku tahu bahwa kamu sebenarnya tahu. Sadar bahwa ada orang yang selama ini menantimu selama ini, sesetia ini. Tapi mengapa kamu melangkah pergi?. Tak cukup pantaskah aku untukmu?”. Aku bergumam dalam batinku.
“Kamu kenapa sih, Fer?. Gara-gara kejadian kemarin?”. Tanya Dera disela-sela lamunanku. Memang aku tidak pernah mengatakan pada Dera tentang apa yang membuatku sedih, tetapi Dera telah mengetahui bahwa aku termasuk salah satu orang yang MAGAMON (Manusia Gagal Move-On). Tak tahu-lah bahasa dari mana itu.
“Pernah nggak sih, Der. Kamu sangat mencintai seseorang tetapi pada akhirnya kamu sadar bahwa cintamu bertepuk sebelah tangan?. Tapi kamu nggak pernah sedikitpun ingin membuang perasaan itu. Sebaliknya kamu malah menyimpan perasaan itu didasar hatimu. Tak peduli betapa sakitnya hatimu ketika melihat orang yang kamu saying berjalan dengan orang lain dan itu bukan kamu”. Kata-kata puitis akhirnya keluar dari mulutku.
“Fer, sudahlah. Kamu sendiri yang bilang padaku kalau kamu bisa move-on. Tapi nyatanya apa, hayo. Udahlah, Fer. Lupakan dia. Buka hatimu untuk orang lain. Diluar sana banyak yang menginginkan cintamu”.
“Sulit sekali rasanya. Membuka hati untuk orang lain sedangkan hatiku masih tertinggal disana. Ditempat yang sama. Dalam keadaan masih utuh tanpa ada kurang 1% pun”.
“Belajarlah, Fer”.
I will try”. Kataku sambil berlau meninggalkan Dera di balkon dekat kelas sendirian.
***
Aku seperti tanaman tak terkena air selama berhari-hari. Kering. Tandus. Layu. Hari-hari ku tidak ada perubahan. Masih dalam kondisi yang sama dan perasaan yang sama. Malahan, semakin hari semakin menjadi. Karena setiap hari pula, aku melihat Doni berjalan dengan kekasihnya. Aku terus saja mengeluarkan senyum palsu, terpaksa tertawa untuk menutupi semua kesedihanku. Bahkan kepalaku terdapat backsong yang menggambarkan perasaanku saat ini. Bait Pertama dari Sheila On Seven.
Mungkin aku harus mengakhiri semua sebelum perasaan itu semakin tumbuh dan berkembang. Aku harus mendengarkan kata-kata Dera untuk membuka hatiku untuk orang lain. Mencoba menerima keadaan yang ada dan menjalani hidup seperti biasa. Melupakan semua tentang Doni. Mengejar cita-citaku yang belum tercapai. Karena masih panjang hidupku. Masih tinggi cita-citaku. Masih banyak yang harus aku lakukan untuk kedua orang tuaku. Dan masih banyak orang yang berharap akan kehadiranku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar